“Aku hujan, walaupun menangis Aku yakin hujan itu akan berhenti. Aku ingin Dia pelangi karena Aku yakin hujan berhenti karena pelangi. Jika Aku selalu menangis tanpa pelangi Aku yakin semua akan hilang, karena Aku hujan, Jika Aku tidak pernah menangis karena selalu ada pelangi Aku yakin semua akan hilang, karena Aku hujan.”
Yang selalu memberi warna indah
“Pelangi yang memberi warna indah, ‘MEJIKUHIBINIU’ . Warna keceriaan yang indah, indah jika bergabung menjadi satu. Itulah pelangi. Tanpa merah ia akan kehilangan jiwa keberanian. Tanpa jingga ia akan kehilangan kekuatan. Tanpa kuning ia akan kehilangan keceriaan dia. Tanpa Hijau ia akan kehilangan harapan itu. Tanpa biru ia akan kehilangan kedamaian. Tanpa nila ia akan kehilangan kesabaran. Tanpa ungu ia akan kehilangan kemewahan.”
Disaat airmata itu telah menghilang
“Air mata itu telah menghilang, pergi seakan bunga Dandelion. Pergi dengan harapan yang pasti. Memberi harapan bagi orang yang meniupnya. Bukan sebuah permintaan yang pasti akan terjadi, tapi hanya sebuah harapan. Harapan yang pergi dengan tetesannya, yah, Aku hujan itu.”
Air mata itu akan hilang karena kedatangan pelangi
“Kedatangan pelangi akan menghapus air matanya. Bukankah pelangi adalah senyuman? Senyuman yang ada karena hujan. Alangkah indahnya pelangi itu . Pelangi datang setelah hujan, bukan hujan yang datang setelah pelangi. Karena jika hujan yang datang setelah pelangi siapa yang akan memberi keceriaan itu?. Tuhan Maha Agung, ia tahu yang terbaik untuk hidupku. Karena itulah Aku mencintai Tuhan.”
Memberi keceriaan untuk hujan
“Pelangi itu bagaikan senyuman, senyuman keceriaan yang tumbuh setelah hujan. Hujan berhenti karena ia tahu kesedihan itu telah berakhir. Tapi bagiku hujan bukan kesedihan, melainkan tetes air mata.Bukan hanya tetes air mata kesedihan, tapi ada juga air mata bahagia. Bahagia karena pelangi J”
Pelangi itu akan hilang seakan termakan waktu
“Pelangi akan hilang seperti termakan waktu, Tuhan tahu yang terbaik. Bukannya Tuhan tidak menginginkan kita bahagia selamanya, tapi Ia tahu jika kita bahagia selamanya Aku akan hilang. Bukan pelangi yang termakan waktu tapi Aku. Karena itulah Tuhan menciptakan pelangi yang sementara, tidak abadi. Begitu pula Aku, Aku diciptakan sementara, Aku akan hilang dan mati.”
Waktu yang terus berjalan bagaikan air mengalir
“Waktu tidak akan pernah berhenti, waktu terus berjalan dan berputar bagaikan air yang mengalir. Air yang akan terus mengalir karena ada Aku. Hujan yang membuat air terus berjalan dan mengalir. Waktu? Waktu tidak akan pernah berhenti, walaupun jam berhenti tapi waktu tidak akan berhenti. Waktu yang selalu berjalan, begitu juga Aku, karena Aku hujan.”
Air yang datang karena tetes hujan
“Aku? Bukan Aku tapi Tuhan. Karena tuhan yang menciptakan hujan. Aku sebagai perantara turunnya tetes – tetes hujan itu. Hujan yang selalu ditunggu. Jika Aku tidak ada, akankah masih ada air yang mengalir itu? Masih adakah senyum malaikat kecil yang bermain bersama tetes hujanku? Karena itu Aku harus selalu ada walaupun tetes hujan itu bukan tetes kebahagiaan. Selagi ada pelangi Aku masih bisa ceria, karena Aku adalah hujan.”
Jika aku menghilang, tidak ada lagi keceriaan pelangi, dan waktu pun berhenti berjalan, begitu juga dengan air yang mengalir, takkan pernah terlihat lagi.
“Jika Aku menghilang. Masih adakah senyum dari pelangi? Masih adakah waktu yang terus berputar? Masih adakah air yang mengalir? Dan masih adakah mereka? Karena sekarang Aku mati. Mati bagai ranting kecil yang jatuh dari pohonnya. Aku pergi karena Aku bahagia. Mungkin Aku egois karena tidak memikirkan mereka. Mereka yang sangat membutuhkanku. Tapi itulah hidup. Dan Aku harus pergi untuk selama-lamanya.”
BY : DEA LUXESA
Jambi, 11 november 2011
